Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Imma
● online
Imma
● online
Halo, perkenalkan saya Imma
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Buka jam 08.00 s/d jam 21.00 , Sabtu- Minggu tutup
  • Imabel ❯ Inklusif, Mandiri dan Kredibel!
  • Ojol Mandiri ❯ Berdaya, bersinergi, perkasa!
  • Difabel Kredibel❯ Aku bisa, kamu bisa, kita bisa!
Beranda » Blog » Air Mata di Balik Predikat Juara: Wantofal Anugerah Cantik Bertaruh Mimpi di Gala Cerita Rakyat

Air Mata di Balik Predikat Juara: Wantofal Anugerah Cantik Bertaruh Mimpi di Gala Cerita Rakyat

Diposting pada 6 June 2026 oleh admin / Dilihat: 86 kali / Kategori: , ,
Air Mata di Balik Predikat Juara: Wantofal Anugerah Cantik Bertaruh Mimpi di Gala Cerita Rakyat

Air Mata di Balik Predikat Juara: Wantofal Anugerah Cantik Bertaruh Mimpi di Gala Cerita Rakyat

Imabel.net — Gaung kemenangan tiga Duta Difabel Kredibel asal Surabaya di ajang Gala Cerita Rakyat Indonesia 2026 memang membanggakan.

Namun, di balik selempang dan piala yang kini menghiasi lemari Wantofal Anugerah Cantik, tersimpan cerita mencekam tentang malam-malam tanpa tidur, tangis di depan cermin, dan nyaris putus asa di saat-saat terakhir.

Gadis 13 tahun dengan kondisi tuli ini bukan sekadar menang. Ia “berdarah-darah” untuk mencapai garis finis.

Bagi Cantik—sapaan akrab Wantofal—tantangan lomba mendongeng ini jauh berbeda dari panggung fashion show yang biasa ia taklukkan. Ini adalah medan asing. Ia tidak sedang berjalan bergaya di atas catwalk, melainkan harus menghidupkan karakter, mengatur ekspresi, dan menyampaikan narasi dalam durasi yang sangat sempit: maksimal lima menit.

“Awalnya Cantik bingung, benar-benar bingung. Ini pertama kalinya,” ujar Shohifatul Zuhriyah sang ibunda menirukan kegalauan putrinya.

Meskipun pernah tampil mendongeng sebelumnya, tekanan lomba nasional tetap terasa membebani. Lima menit adalah waktu yang terlalu pendek untuk segudang persiapan, tetapi terasa sangat panjang jika ekspresi salah atau gerak tubuh tidak tepat.

Belajar di Mana Saja, Sampai Depan Kaca Kamar

Tim kecil pun dibentuk di rumah. Bunda Inge (mentor story telling) dengan sabar memandu latihan melalui video. Pak Wawan (pendamping anak tuli) mengajarkan gestur dan mimik wajah. Kak Abhi (pendamping anak tuli) menjadi juru kamera dadakan saat pengambilan video final di Alun-alun Surabaya. Lokasi syuting digeser dua kali karena faktor pencahayaan dan durasi yang belum pas. Namun, yang paling melelahkan adalah proses penghafalan.

“Setiap malam Cantik tidak tidur. Naskah selalu dibawa ke mana-mana. Di jalan, di rumah, di mana pun. Sampai hafal di luar kepala,” cerita Shohifatul.

Bahkan, Cantik berlatih di depan kaca kamarnya sendiri. Ia mempelajari apakah ekspresi wajahnya sudah cukup hidup, apakah gerakan tangannya sudah tepat menggambarkan alur cerita. Ada momen-momen ketika ia menangis. “Bingung. Apa iya saya bisa ikut lomba ini?” batinnya waktu itu.

Namun tangis itu tidak menyurutkan langkah. Ia tetap berjalan, tetap menghafal, dan tetap tersenyum di depan kamera meski hati gamang.

Malam “Kiamat” Bernama Edit Video

Jika hafalan adalah ujian pertama, maka mengedit video adalah ujian yang nyaris menghancurkan semangat. Cantik tidak bisa mengedit sendiri. Pada percobaan pertama, ia belajar meracik video hingga pukul satu dini hari. Namun, file yang sudah susah payah disusun lenyap begitu saja karena tidak tersimpan.

“Bayangkan betapa nangisnya Cantik saat itu,” kata ibunda.

Pagi harinya ia tetap berangkat sekolah. Sepulang sekolah, ia langsung balik badan untuk mencoba mengedit video lagi. Hari berganti malam, tetapi video belum juga rampung. Proses edit berulang kali gagal. Ini berlangsung sampai hari terakhir pengumpulan.

Gangguan Jaringan, Hingga Pasrah di Jam 23.00

Ketika video akhirnya jadi, masalah baru datang: jaringan internet lemot dan tidak stabil. Ini terjadi persis di hari penutupan pendaftaran. Cantik dan keluarganya hampir kehilangan harapan.

Namun, pada pukul 20.30, video berhasil terkirim—meskipun pengumuman resmi dari penyedia jasa menyebutkan bahwa sedang terjadi gangguan besar pada sistem.

“Jam 23.00 kami cek lagi, apakah video sudah masuk. Sebenarnya sudah tidak ada harapan. Kami tanya-tanya teman, telepon guru, apalah. Tapi sekali lagi, alhamdulillah,” ujar Shohifatul.

Semua kecemasan itu pupus ketika pengumuman pemenang tiba. Wantofal Anugerah Cantik, gadis yang sempat menangis di depan kaca, resmi menjadi salah satu jawara nasional Gala Cerita Rakyat Indonesia 2026 Kategori Apresiasi Inklusi.

Kemenangan yang Tak Terduga

Bagi Cantik, selempang Duta Difabel Kredibel yang ia terima dua hari sebelumnya bukanlah jaminan kemudahan. Ia tetap harus berjuang seperti orang-orang pada umumnya.

Bahkan, mungkin lebih keras karena harus melawan rasa tidak percaya diri dan keterbatasan teknis yang tidak dialami oleh kebanyakan orang.

“Kalau kita sabar dan berikhtiar, Allah pasti kasih yang terbaik. Amin,” pungkas ibunda Cantik mewakili rasa syukur yang melimpah.

Kisah Wantofal Anugerah Cantik adalah pengingat bahwa bakat saja tidak cukup. Ada harga yang harus dibayar untuk sebuah kemenangan: bergadang, air mata, kerja ekstra, dan keyakinan bahwa besok pasti lebih baik.

Sekarang, selempang di dadanya tidak hanya bertuliskan “Difabel Kredibel”. Ada cerita perjuangan yang melekat di setiap serat kain itu.

Tags: , , , , , , , , ,

Bagikan ke

Air Mata di Balik Predikat Juara: Wantofal Anugerah Cantik Bertaruh Mimpi di Gala Cerita Rakyat

Saat ini belum tersedia komentar.

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Air Mata di Balik Predikat Juara: Wantofal Anugerah Cantik Bertaruh Mimpi di Gala Cerita Rakyat

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: