Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Imma
● online
Imma
● online
Halo, perkenalkan saya Imma
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Buka jam 08.00 s/d jam 21.00 , Sabtu- Minggu tutup
  • Imabel ❯ Inklusif, Mandiri dan Kredibel!
  • Ojol Mandiri ❯ Berdaya, bersinergi, perkasa!
  • Difabel Kredibel❯ Aku bisa, kamu bisa, kita bisa!
Beranda » Blog » Ketika Tuts Keyboard Bicara Lebih Keras dari Kata: Kisah Isabella dan Farihah di Inspire Education Festival 2026

Ketika Tuts Keyboard Bicara Lebih Keras dari Kata: Kisah Isabella dan Farihah di Inspire Education Festival 2026

Diposting pada 16 October 2026 oleh admin / Dilihat: 13 kali / Kategori: , ,
Ketika Tuts Keyboard Bicara Lebih Keras dari Kata: Kisah Isabella dan Farihah di Inspire Education Festival 2026

Ketika Tuts Keyboard Bicara Lebih Keras dari Kata: Kisah Isabella dan Farihah di Inspire Education Festival 2026

IMABEL.net — Ada momen di mana panggung tidak lagi soal siapa yang terlihat, melainkan siapa yang terdengar. Di Atrium Maspion Square, Jalan A. Yani No. 73, Margorejo, Surabaya, pada Rabu (14/10/2026), dua siswi tunanetra dari SLB AC Dharma Wanita Sidoarjo membuktikan bahwa suara bisa menjadi cahaya.

Brilyan Isabella Mantiri dan Farihah Wasilatun Najah tampil dalam gelaran Inspire Education Festival 2026 yang berlangsung 14–18 Oktober 2026.

Festival bertema “Inspiring Minds, Shaping the Future” ini terbuka untuk umum dan gratis, menjadi ruang bagi peserta didik dari TK hingga SMA/SMK untuk menunjukkan bakat terbaik mereka.

Isabella duduk di depan keyboard, tangannya menemukan tuts dengan keyakinan yang lahir dari latihan panjang. Lagu “Jiwa yang Bersedih” mengalun, dibawakan dengan penghayatan yang menyentuh. Tidak ada keraguan dalam permainannya, tidak ada kebimbangan dalam suaranya. Bagi Isabella, piano bukan sekadar alat musik—ia adalah bahasa lain untuk berbicara kepada dunia.

Kemudian, Farihah bergabung. Mereka membawakan Sholawat Busro, sebuah lagu religi yang dibawakan dengan penuh kekhusyukan. Kolaborasi itu bukan sekadar penampilan, melainkan bukti kerja sama dan saling percaya antara dua sahabat yang tumbuh bersama dalam dunia musik.

SLB AC Dharma Wanita: Rumah bagi Tumbuhnya Potensi

SLB AC Dharma Wanita Sidoarjo bukan sekolah biasa. Berlokasi di Jalan Pahlawan, Sidokumpul, Kecamatan Sidoarjo, sekolah luar biasa swasta ini telah lama menjadi rumah bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

Sejak awal berdirinya, SLB ini menaungi anak tunanetra (kategori A), dan pada tahun 1994 menambah kategori penerimaan siswa untuk anak tunagrahita (kategori C).

Visi sekolah ini adalah mewujudkan siswa yang beriman, bertakwa, terampil, dan mandiri sehingga berperan serta dalam kehidupan bermasyarakat. Misi mereka mencakup peningkatan kualitas pelayanan pembelajaran yang terprogram, pengembangan potensi dalam bidang ekstrakurikuler, serta upaya optimal menjadikan sekolah yang menghasilkan tenaga terampil.

Perjalanan Farihah: Mimpi yang Tak Pernah Padam

Farihah Wasilatun Najah bukan nama yang baru muncul tiba-tiba. Sejak 2022, saat usianya masih 11 tahun, ia sudah menunjukkan ketertarikan besar pada musik. Ia aktif latihan bermain piano dan menghafal Al-Qur’an. Farihah yang lahir secara prematur dengan usia kandungan 6 bulan mengalami cacat netra, namun tumbuh menjadi anak yang ceria dan aktif.

Cita-citanya pun beragam: menjadi hafidzah, youtuber, pianis, dan pencipta lagu. Ibundanya, Nur Faizah, menyatakan dukungan penuh terhadap pengembangan bakat anaknya. Dukungan juga datang dari Ikatan Alumni Universitas Airlangga (IKA-UNAIR) yang memberikan Al-Qur’an Braille untuk mewujudkan mimpinya menjadi penghafal Al-Qur’an.

Jejak Putri Ariani: Inspirasi yang Tak Pernah Usai

Kisah Isabella dan Farihah mengingatkan pada sosok Putri Ariani, penyandang tunanetra asal Indonesia yang mengguncang panggung America’s Got Talent 2023. Putri, yang lahir prematur pada usia kandungan 6 bulan, mengalami kebutaan total sejak usia 3 bulan. Namun, ia membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang. Kemampuannya bermain piano dan bernyanyi membuatnya meraih Golden Buzzer dari Simon Cowell.

Putri juga menciptakan lagu sendiri, “Loneliness,” yang dibawakan di atas panggung AGT. Kisahnya menjadi inspirasi bagi banyak penyandang disabilitas di Indonesia, termasuk Isabella dan Farihah, bahwa dengan ketekunan dan dukungan yang tepat, mimpi dapat diraih.

Panggung yang Inklusif untuk Semua

Inspire Education Festival 2026 menjadi bukti bahwa panggung pendidikan adalah ruang yang inklusif. Penampilan Isabella dan Farihah bukan sekadar hiburan, melainkan pernyataan bahwa setiap anak—tanpa terkecuali—memiliki hak untuk berkarya, berkolaborasi, dan menunjukkan potensi terbaik. Di Atrium Maspion Square malam itu, tuts piano berbicara lebih keras dari kata-kata. Dan dua siswi tunanetra dari Sidoarjo telah membuktikan bahwa cahaya tidak selalu datang dari mata, tetapi juga dari hati yang berani bermimpi.

#IsabellaFarihah #SLBACDharmaWanita #InspireEducationFestival2026 #TunanetraBerprestasi #PendidikanInklusif

Tags: , , ,

Bagikan ke

Ketika Tuts Keyboard Bicara Lebih Keras dari Kata: Kisah Isabella dan Farihah di Inspire Education Festival 2026

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.

Ketika Tuts Keyboard Bicara Lebih Keras dari Kata: Kisah Isabella dan Farihah di Inspire Education Festival 2026

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: