● online
- Imabel ❯ Inklusif, Mandiri dan Kredibel!
- Ojol Mandiri ❯ Berdaya, bersinergi, perkasa!
- Difabel Kredibel❯ Aku bisa, kamu bisa, kita bisa!
Dari Seni Jaranan ke Kanvas: Kisah Gilang Nugraha, Seniman Muda SMKN 1 Surabaya

Dari Seni Jaranan ke Kanvas: Kisah Gilang Nugraha, Seniman Muda SMKN 1 Surabaya
IMABEL.com — Bagi Gilang “Jaranan” Nugraha, seni bukanlah satu ruang tunggal. Ia bergerak bebas antara kanvas lukis, anyaman pecut, dan hentakan kaki di panggung jaranan.
Siswa kelas XI jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) SMKN 1 Surabaya ini membuktikan bahwa seorang pelajar mampu menjadi penjaga tradisi sekaligus penafsir modernitas.
Perkenalan Gilang dengan dunia seni tidak dimulai dari buku teks. Ia tumbuh dalam lingkaran kesenian tradisional Jawa Timur, tempat jaranan—seni pertunjukan rakyat dengan properti kuda tiruan dari anyaman bambu—menjadi bagian dari keseharian.
Kesenian Jaranan telah hadir sejak masa Kerajaan Panjalu (Kediri) sekitar tahun 1041 Masehi, dan bagi Gilang, ia adalah warisan yang harus dijaga, bukan sekadar tontonan masa lalu.
Namun, bakatnya tidak berhenti di situ. Ketika dipercaya melukis sosok Ibu Rini, istri Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Gilang menunjukkan sisi lain dirinya. Ia tidak sekadar menyalin wajah, tetapi berusaha menangkap karakter dan ekspresi.
“Melukis seseorang bukan hanya soal mirip atau tidak, tapi bagaimana kita bisa menangkap karakter dan perasaannya,” ujarnya.
Tangan yang Menganyam Tradisi
Di balik keterampilannya memegang kuas, Gilang juga mahir membuat kerajinan pecut tradisional—cambuk dari lidi aren atau rotan yang memiliki nilai budaya tinggi bagi masyarakat Jawa Timur.
Pecut bukan benda biasa; ia adalah simbol keberanian dan ketangguhan yang telah diwariskan turun-temurun. Di Kediri, Tari Pecut Samandiman bahkan telah di-HAKI-kan oleh pemerintah kota dan kerap ditampilkan dalam festival budaya dengan melibatkan ribuan penari.
Kemahiran Gilang membuat pecut menunjukkan bahwa ia tidak hanya mempraktikkan seni, tetapi juga menghidupkannya dari akar. Setiap helai anyaman adalah bentuk penghormatan pada leluhur, sekaligus cara untuk memastikan tradisi tidak punah di tangan generasi muda.
Menari sebagai Cara Bercerita
Lebih dari sekadar membuat, Gilang juga memperagakan Tari Pecut dan Jaranan di berbagai kesempatan. Tari Pecut menggabungkan gerakan dinamis dengan properti cambuk, sering ditampilkan dalam ritual adat seperti meminta hujan atau dalam festival budaya.
Sementara Jaranan, dengan gerakan yang menirukan penunggang kuda, sarat makna spiritual dan filosofis.
Bagi Gilang, menari bukan sekadar bergerak mengikuti irama. Ada nilai-nilai yang ia hayati: keberanian, ketangguhan, dan penghormatan pada tradisi. “Setiap gerakan dalam jaranan dan pecut itu punya cerita. Saya ingin cerita itu tetap hidup,” tegasnya.
Imabel dan Semangat Inklusivitas
Gilang juga dikenal sebagai anggota komunitas Imabel (Inklusif Mandiri dan Kredibel), sebuah komunitas yang bergerak dalam pemberdayaan penyandang disabilitas.
Di komunitas inilah semangat inklusivitas dan keberagaman semakin tertanam dalam dirinya. Ia belajar bahwa seni adalah ruang yang terbuka bagi siapa saja, tanpa memandang latar belakang atau kondisi fisik.
Lingkungan pendidikan di jurusan DKV SMKN 1 Surabaya turut membentuk kemampuan visual dan kreativitasnya. Dunia DKV mengajarkannya bahwa gambar adalah media komunikasi, sementara seni lukis memberinya kebebasan untuk mengekspresikan pengamatan dan perasaannya. Kombinasi ini membuat Gilang menjadi pribadi yang mampu melihat seni dari berbagai sudut pandang.
Dengan usia yang masih belia, Gilang Jaranan Nugraha memiliki perjalanan panjang untuk terus mengembangkan bakatnya. Kanvas, pecut, dan panggung tari adalah tiga medium yang ia gunakan untuk bercerita—tentang kekaguman, tentang warisan, dan tentang semangat seorang seniman muda yang sedang menemukan jati dirinya.
#GilangJaranan #SenimanMudaSurabaya #SMKN1Surabaya #PecutTradisional #JarananWarisan
Tags: Anak Berprestasi, Difabel, Difabel Kredibel, Ekonomi Kreatif, Imabel
Dari Seni Jaranan ke Kanvas: Kisah Gilang Nugraha, Seniman Muda SMKN 1 Surabaya
Imabel.net — Ada satu fakta penting yang harus dipahami bersama: penyandang disabilitas lebih rentan menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang... selengkapnya
Imabel.net — Sebuah kabar menggembirakan datang dari Korps Bhayangkara menjelang peringatan Hari Bhayangkara ke-80. Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) menegaskan... selengkapnya
IMABEL.net — Ada yang istimewa dari sebuah kanvas yang dikirim dari Surabaya ke Jakarta pada Jumat (25/9/2026). Di atasnya, sebuah... selengkapnya
IMABEL.net— Di Amerika Serikat, setiap Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) memiliki hak hukum yang dilindungi undang-undang untuk mendapatkan pendidikan yang dirancang... selengkapnya
Imabel.net – Di balik keterbatasan fisik yang dialaminya, Ahmad Farhan Winarto (20) membuktikan bahwa disabilitas bukanlah penghalang untuk berkarya dan... selengkapnya
Imabel.net — Suasana berbeda terasa di Ruang Auditorium Lantai 6 RS Mitra Keluarga Kenjeran pada Sabtu (4/7/2026) pagi. Puluhan perempuan... selengkapnya
IMABEL.net — Kamera-kamera itu tak mau beranjak. Di atas panggung Bursa Wirausaha Unggulan Jawa Timur, Menteri UMKM Maman Abdurrahman merangkul... selengkapnya
Imabel.net — Abidah, sapaan akrab Abidah Nur Zahro Aulia Umama, bukanlah remaja biasa. Di usianya yang baru menginjak 15 tahun,... selengkapnya
IMABEL.net — Di tengah hiruk-pikuk janji politik dan program pembangunan yang silih berganti, muncullah sebuah inisiatif yang terasa berbeda. Bukan... selengkapnya
Imabel.net — Sorotan tajam dilayangkan Komisi E DPRD Jawa Timur kepada Pemerintah Provinsi Jatim dan seluruh Badan Usaha Milik Daerah... selengkapnya


Saat ini belum tersedia komentar.