Whatsapp

Ada yang ditanyakan?
Klik untuk chat dengan customer support kami

Imma
● online
Imma
● online
Halo, perkenalkan saya Imma
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja
Kontak Kami
Member Area
Rp
Keranjang Belanja

Oops, keranjang belanja Anda kosong!

Buka jam 08.00 s/d jam 21.00 , Sabtu- Minggu tutup
  • Imabel ❯ Inklusif, Mandiri dan Kredibel!
  • Ojol Mandiri ❯ Berdaya, bersinergi, perkasa!
  • Difabel Kredibel❯ Aku bisa, kamu bisa, kita bisa!
Beranda » Blog » Dari Seni Jaranan ke Kanvas: Kisah Gilang Nugraha, Seniman Muda SMKN 1 Surabaya

Dari Seni Jaranan ke Kanvas: Kisah Gilang Nugraha, Seniman Muda SMKN 1 Surabaya

Diposting pada 14 September 2026 oleh admin / Dilihat: 22 kali / Kategori: ,
Dari Seni Jaranan ke Kanvas: Kisah Gilang Nugraha, Seniman Muda SMKN 1 Surabaya

Dari Seni Jaranan ke Kanvas: Kisah Gilang Nugraha, Seniman Muda SMKN 1 Surabaya

IMABEL.com — Bagi Gilang “Jaranan” Nugraha, seni bukanlah satu ruang tunggal. Ia bergerak bebas antara kanvas lukis, anyaman pecut, dan hentakan kaki di panggung jaranan.

Siswa kelas XI jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) SMKN 1 Surabaya ini membuktikan bahwa seorang pelajar mampu menjadi penjaga tradisi sekaligus penafsir modernitas.

Perkenalan Gilang dengan dunia seni tidak dimulai dari buku teks. Ia tumbuh dalam lingkaran kesenian tradisional Jawa Timur, tempat jaranan—seni pertunjukan rakyat dengan properti kuda tiruan dari anyaman bambu—menjadi bagian dari keseharian.

Kesenian Jaranan telah hadir sejak masa Kerajaan Panjalu (Kediri) sekitar tahun 1041 Masehi, dan bagi Gilang, ia adalah warisan yang harus dijaga, bukan sekadar tontonan masa lalu.

Namun, bakatnya tidak berhenti di situ. Ketika dipercaya melukis sosok Ibu Rini, istri Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Gilang menunjukkan sisi lain dirinya. Ia tidak sekadar menyalin wajah, tetapi berusaha menangkap karakter dan ekspresi.

“Melukis seseorang bukan hanya soal mirip atau tidak, tapi bagaimana kita bisa menangkap karakter dan perasaannya,” ujarnya.

Tangan yang Menganyam Tradisi

Di balik keterampilannya memegang kuas, Gilang juga mahir membuat kerajinan pecut tradisional—cambuk dari lidi aren atau rotan yang memiliki nilai budaya tinggi bagi masyarakat Jawa Timur.

Pecut bukan benda biasa; ia adalah simbol keberanian dan ketangguhan yang telah diwariskan turun-temurun. Di Kediri, Tari Pecut Samandiman bahkan telah di-HAKI-kan oleh pemerintah kota dan kerap ditampilkan dalam festival budaya dengan melibatkan ribuan penari.

Kemahiran Gilang membuat pecut menunjukkan bahwa ia tidak hanya mempraktikkan seni, tetapi juga menghidupkannya dari akar. Setiap helai anyaman adalah bentuk penghormatan pada leluhur, sekaligus cara untuk memastikan tradisi tidak punah di tangan generasi muda.

Menari sebagai Cara Bercerita

Lebih dari sekadar membuat, Gilang juga memperagakan Tari Pecut dan Jaranan di berbagai kesempatan. Tari Pecut menggabungkan gerakan dinamis dengan properti cambuk, sering ditampilkan dalam ritual adat seperti meminta hujan atau dalam festival budaya.

Sementara Jaranan, dengan gerakan yang menirukan penunggang kuda, sarat makna spiritual dan filosofis.

Bagi Gilang, menari bukan sekadar bergerak mengikuti irama. Ada nilai-nilai yang ia hayati: keberanian, ketangguhan, dan penghormatan pada tradisi. “Setiap gerakan dalam jaranan dan pecut itu punya cerita. Saya ingin cerita itu tetap hidup,” tegasnya.

Imabel dan Semangat Inklusivitas

Gilang juga dikenal sebagai anggota komunitas Imabel (Inklusif Mandiri dan Kredibel), sebuah komunitas yang bergerak dalam pemberdayaan penyandang disabilitas.

Di komunitas inilah semangat inklusivitas dan keberagaman semakin tertanam dalam dirinya. Ia belajar bahwa seni adalah ruang yang terbuka bagi siapa saja, tanpa memandang latar belakang atau kondisi fisik.

Lingkungan pendidikan di jurusan DKV SMKN 1 Surabaya turut membentuk kemampuan visual dan kreativitasnya. Dunia DKV mengajarkannya bahwa gambar adalah media komunikasi, sementara seni lukis memberinya kebebasan untuk mengekspresikan pengamatan dan perasaannya. Kombinasi ini membuat Gilang menjadi pribadi yang mampu melihat seni dari berbagai sudut pandang.

Dengan usia yang masih belia, Gilang Jaranan Nugraha memiliki perjalanan panjang untuk terus mengembangkan bakatnya. Kanvas, pecut, dan panggung tari adalah tiga medium yang ia gunakan untuk bercerita—tentang kekaguman, tentang warisan, dan tentang semangat seorang seniman muda yang sedang menemukan jati dirinya.

#GilangJaranan #SenimanMudaSurabaya #SMKN1Surabaya #PecutTradisional #JarananWarisan

Tags: , , , ,

Bagikan ke

Dari Seni Jaranan ke Kanvas: Kisah Gilang Nugraha, Seniman Muda SMKN 1 Surabaya

Saat ini belum tersedia komentar.

Mohon maaf, form komentar dinonaktifkan pada halaman/artikel ini.

Dari Seni Jaranan ke Kanvas: Kisah Gilang Nugraha, Seniman Muda SMKN 1 Surabaya

Produk yang sangat tepat, pilihan bagus..!

Berhasil ditambahkan ke keranjang belanja
Lanjut Belanja
Checkout
Produk Quick Order

Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak dibawah: